Ijinkanlah
aku membunuh untuk terakhir kalinya. Bukan karena aku dendam dan bukan pula
karena cemburu. Kamu tahu watak ku. Aku tidak mencoba untuk mencari-cari alasan
dan tidak pula mengada-ada. Orang ini memang layak untuk ku bunuh. Akan ku persembahkan
jantungnya untuk ibu ku dan otaknya untuk bapak ku sebagai tanda bakti kepada
mereka. Juga sebagai bukti pertanggungjawaban ku kepada penguasa alam. Aku muak
dengan lagak yang sok itu, apalagi yang ada padanya hanyalah omong kosong
belaka. Dilaknatlah dia oleh bumi dan langit.
Ijinkanlah
aku! Setelah ini aku akan segera menghilang. Dari hidup dan mimpimu untuk
selamanya.
6 bulan yang lalu
Pertemuan
yang tidak disengaja terjadi. Orang itu bertubuh kecil kerempeng, berambut
gondrong dan nada bicara yang sangat meyakinkan. Kewibawaan itu bisa membuat
seekor macan tunduk dihadapannya. Raut mukanya mencerminkan kegelisahan tetapi
terlihat pula ketenangan dalam mengatasi masalah. Dari banyak cerita yang terdengar,
dia seorang yang menyandang nama besar dan cukup disegani dalam komunitasnya. Banyak
hal yang telah dia lakukan. Kehebatanya tidak hanya terdengar di kota ku saja tetapi
juga tersohor sampai ke luar negeri.
Malam
itu adalah malam natal tahun 2006. Kami mengadakan acara kecil-kecilan
mengenang rasa sakit yang diderita Maria dan ketulusannya untuk melupakan kesakitan
itu. Acara diadakan di sebuah rumah yang agak terpencil dan dingin. Rumah seorang
kawan yang namanya dikenal dalam dunia panggung khususnya teater.
Ketidaksengajaan yang menyertai acara itu, tampaknya juga telah membawa
tapak-tapak kaki beberapa seniman tua dan kondang untuk hadir. Seorang pelukis
yang bisa dibilang masterpiece hadir bersama rombongan kawan-kawan
senimannya yang juga tidak kalah kondang. Salah seorang di dalam rombongan
itulah yang akan aku ceritakan.
Gempa
bumi yang menghancurkan selatan kota ku telah menarik perhatian banyak
kalangan, salah satunya adalah para seniman. Mereka ingin mencurahkan ide-ide
tentang kota ku dengan media yang mereka kuasai. Kanvas, sastra, teater, musik,
kain, batu, semen, plastik dan media-media lainnya. Bencana alam itu juga telah
membuat beberapa orang menjadikanya sebagai ajang reuni yang tanpa direncakan.
Waktu
berjalan terasa begitu cepat, pembicaraan-pembicaraan yang mengalir deras telah
membuat kesadaran hilang sesaat. Nilai-nilai dikupas dan dikaji ulang, estetika
dan etika dalam lorong relativitas, gravitasi dan anomali berlomba diaduk ketel
uap. Angin malam yang panas membuat beberapa anjing menjadi gelisah. Penciuman
yang tajam telah membaui para peronda yang datang untuk mengambil jimpitan.
Di kota ku yang tenang, jimpitan berupa segemgam beras atau uang beberapa ratus
rupiah diletakkan di depan rumah dan petugas ronda akan mengambilnya setiap
malam. Aku tidak tahu sejak kapan tradisi itu dimulai.
Beberapa
anjing mulai menggeram dan menyalak. Peronda-peronda itu tetap tenang karena
sudah terbiasa. Beberapa tamu yang baru hadir tampak kaget dan penasaran karena
tiba-tiba saja anjing-anjing itu menyalak. Sejenak pembicaraan terhenti dan ini
menjadi sebuah kesempatan untuk meneguk kopi atau teh yang tersisa di dalam gelas.
Orang
itu sejak tadi hanya diam dan sekarang tampak mengeluarkan rokok dari dalam
saku bajunya yang mungkin seumuran ku. Menurut ku umurnya kira-kira 45 tahunan.
Uban mulai melawan rambut hitam yang panjang tidak diatur. Sejak pertama datang,
dia langsung duduk di kursi sudut ruangan dan diam tanpa sepatah katapun. Bahkan
tersenyumpun tidak. Sesekali diseruputnya thengkleng dalam baskom yang
terlihat lezat. Wajah itu tampak berwibawa sekaligus angker. Aku menjadi minder
dibuatnya.
2 hari setelah malam natal 2006
Aku
bertemu dengan seorang kawan yang baru kenal beberapa bulan lalu namun sudah
cukup akrab. Tampaknya dia cukup dekat dengan beberapa seniman yang hadir pada
malam itu. Katanya karya-karya mereka itu bagus dan sangat dikenal. Dia
menceritakan pengalamannya ketika hidup bersama mereka dengan penuh antusias.
Aku mengamini saja ceritanya. Dari dia ku ketahui latar belakang para
seniman-seniman itu. Sedikit banyak aku merasa bangga juga bisa berkenalan
dengan mereka, entah mereka masih mengingat ku atau tidak. Itu tidaklah penting
karena ketenaran mereka bisa menjadi
bahan cerita ku untuk kawan-kawan yang lain. Walaupun kalau nanti ada yang
bertanya macam-macam tentang hal itu, tentu akan membuat ku repot. Tetapi
biasanya aku membuat jawaban yang mengagung-agungkan nama mereka, entah itu
benar atau tidak. Aku tidak mau mati gaya di hadapan kawan-kawan. Itulah salah
satu sisi buruk yang secara sadar ku ulang-ulang dan belum tentu menguntungkan.
Mereka
menyewa sebuah rumah di desa yang sebagian besar penduduknya adalah pengerajin
gerabah. Letaknya di bagian selatan kota ku. Rumah itu memiliki sebuah pendapa
yang cukup luas. Di dalam rumah inilah bibit permasalahan itu mulai tumbuh.
Secara
arsitektural, bangunan itu terlihat nyeni dan klasik, hanya saja tampak
gelap. Aku tidak paham masalah aura atau feng shui. Aku melihat
gelap karena memang rumah itu lama tidak dihuni dan penerangannya kurang. Baik
dari sinar matahari maupun lampu. Kondisinya cukup memprihatinkan, terlihat
rusak di sana-sini. Dengan bantuan seorang yang paham pertukangan, rumah itu
diperbaiki.
1 bulan setelah malam natal 2006
Atas
seijin mereka, pendapa boleh digunakan untuk kegiatan berkumpul anak-anak dari
usia TK sampai SMP yang tinggal di sekitar desa itu. Kebetulan aku dan
kawan-kawan mempunyai program pendampingan trauma healing untuk
anak-anak korban gempa. Dan khusus untuk desa itu pendampingnya adalah pacar ku.
Dia sarjana S1 komunikasi sebuah universitas swasta yang bergengsi di
kota ku. Kerja-kerja pendampingan itulah yang kemudian membuatnya diterima
menjadi guru Taman Kanak-Kanak yang terletak di bagian timur kota ku.
Aktifitasnya
yang padat membuat kami jadi jarang ketemu. Pagi sampai siang dia mengajar di
TK, sorenya dia meluncur kebagian selatan kota ku untuk mendampingi anak-anak.
Tentu hal ini sangat menjengkelkan, apalagi pada hari liburpun dia juga
menyempatkan diri pergi ke selatan. Hampir tidak ada waktu sama sekali untuk
bertemu. Aku penasaran dengan apa yang dikerjakannya. Jadwal yang ditetapkan
seminggu dua kali dan dia hampir setiap hari datang. Kalau aku menanyakan
aktifitasnya, selalu dijawab kalau anak-anak butuh waktu lebih. Bayangkan saja,
aku bisa membagi waktu empat hari untuk dua desa dan dia satu minggu hanya
untuk satu desa. Kecurigaan mulai muncul, aku mulai bertanya kepada kawan-kawan
dekatnya. Mereka tidak mengetahui aktifitas pacar ku atau lebih tepatnya tidak
ada yang mau memberitahukannya kepada ku. Karena beberapa waktu kemudian mereka
baru mau bercerita dan itu sudah tidak membuat ku terkejut.
2 bulan setelah malam natal 2006
Pada
suatu ketika HPnya rusak dan aku coba memperbaiki. HP itu ngadat kalau
untuk membalas sms. Aku tekan beberapa tombol dan ternyata berhasil. Tetapi
terjadi peristiwa yang aneh, secara otomatis kotak surat terbuka. Sejenak nafas
ku terhenti, kepala ku pening. Kotak surat itu berisi kata-kata mesra dan
rayuan untuk pacar ku. Aku memberanikan diri membuka balasan-balasannya. Aku
sadar kalau perbuatan ku salah dan melanggar privasi. Dorongan emosi
yang memuncak menuntun ku untuk berbuat nekad.
Sekali
lagi aku tercekat dan jantung ku berdegup keras, pacar ku membalas rayuan itu
dengan kata-kata mesra pula. Aku mencoba menguasai diri, HP ku kembalikan
dengan wajah tenang dan seperti tidak terjadi apa-apa. Satu jam berlalu dan
tetap tenang hingga ketenangan itu terusik oleh bunyi ring tones HP
pacar ku. Dia mendapat telepon dari seseorang dan terlihat serius, mendadak
rona wajahnya menjadi gelisah. Aku bertanya, “Ada apa?” “Anak-anak dampingan
menunggu ku.” Jawabnya. Aku merasakan
ada suatu kejanggalan.
Aku
menawarkan diri untuk mengantarnya ke
lokasi. Dia semakin gelisah dan berusaha menolak. Aku semakin merasakan
kejanggalan itu. Aku mencoba membuat alasan serasional mungkin. Dengan
wajah kebingungan, akhirnya dia mau juga. Aku tahu kalau perbuatan ini adalah
pemanfaatan organisasi untuk kepentingan pribadi.
Di
perjalan aku menanyakan siapa yang meneleponnya tadi dan dia menjawab, “Salah
seorang seniman yang tinggal di rumah pendapa itu.” Aku mulai curiga.
Jangan-jangan yang mengirim sms-sms mesra itu adalah dia? Aku tetap berusaha
menguasai diri dan tenang, dengan nada bicara rendah ku coba membesarkan
hatinya, “Kalau menjadi pendamping, kita memang harus siap setiap saat untuk
dipanggil ke lokasi.” Dan sebenarnya itu adalah ungkapan yang tendensius.
Dia semakin bingung dan gelisah. Sepanjang perjalanan dia tidak berani menatap ku,
hanya bicara sepatah-sepatah saja itupun kalau aku ‘memancingnya’. Sangat
berbeda dengan adat kebiasaannya yang cerewet dan enerjik.
Sesampainya
di sana tepat seperti dugaan ku, pendapa itu pasti sepi. Aku melontarkan pertanyaan
yang meledek tetapi dengan gaya serius dan penuh kesungguhan. “Kenapa kok sepi
ya?” Dan dia menjawab, “Mungkin anak-anak sudah pulang.” Dalam hati aku tertawa
dan mulai menikmati permainan ini. Selain sok tahu, mungkin aku juga suka
iseng. Aku ajak dia untuk menemui seniman itu, ketakutan semakin melingkupinya.
Dengan alasan berterimakasih karena telah ikut mengawasi anak-anak, aku
membujuknya untuk menemui seniman itu. Akhirnya dia mau walaupun harus diikuti
perasaan bingung dan gelisah.
Aku
mengikutinya masuk dan ternyata seniman itu sedang tiduran di dalam ruang baca.
Ruangan itu tempat meletakkan buku bacaan anak-anak dan mungkin bisa juga disebut
sebagai perpustakaan mini. Dia menyambut hangat kedatangan pacar ku tetapi
begitu sadar kalau aku di belakangnya, seniman itu kaget. Aku sempat
memperhatikan meskipun sekilas.
Untuk
mencairkan suasana, aku membuka diskusi keorganisasian yang sebenarnya
mengada-ada saja. Ingin rasanya tertawa terbahak tetapi ku tahan. Aku tidak mau
sandiwara ini terbongkar. Beruntunglah dulu aku pernah mempelajari dramaturgi
dari sebuah buku yang ku peroleh di pasar loak. Wajah keduanya
tampak bingung. Aku semakin bersemangat mengaduk emosi mereka. Ternyata orang
yang terlihat angkuh dan berwibawa di malam natal itu bisa juga dibuat blingsatan.
Rasa iba akhirnya menghampiri, dengan segenap kebanggaan aku mengajaknya pulang.
Sepanjang perjalanan tak sepatah katapun terlontar. Diam, hening dalam alam
pikiran masing-masing.
Meskipun
telah mengetahui rahasia dibalik sms-sms itu, aku tetap berpura-pura tidak tahu.
Aku ingin dia menceritakan dengan jujur dan sadar tanpa disuruh. Dan sandiwara
itu tetap berjalan.
3 bulan setelah malam natal 2006
Aku
tetap berpura-pura, hingga pada suatu malam dia mengajak bicara. Dia merasakan
ketidaknyamanan dan mulailah bercerita. Semua berawal ketika seniman itu mengajaknya
curhat. Dia memperkenalkan diri berasal dari sebuah kota di sebelah
utara kota ku. Kota di mana para penjelajah dan pedagang berkulit kuning
mendarat pertama kali di tanah air ku. Dia sudah lama tinggal di kota ku dan sering
pula tinggal di sebuah kota sebelah barat kota ku. Kota dimana kemacetan dan
ketidakadilan menjadi suguhan keseharian.
Dia
lulusan sebuah institut seni yang terkenal di kota ku. Selain seniman batik
yang memiliki beberapa galeri, dia pernah menjadi jurnalis untuk berita
kriminal di sebuah stasiun televisi swasta ketika tinggal di kota sebelah timur
kota ku. Kota yang terkenal keras dan penuh dengan orang-orang nekadnya
sehingga menjadi cermin sejarah yang patriotik. Di kota ku, dia menjadi
seorang tourist guide di pusat kota yang merupakan lokasi prostitusi
sejak jaman dahulu.
Pertemuan
rutin mereka lakukan setiap hari, kira-kira antara jam 14:00 – 20:00 WIB. Kalau
hari sabtu pacar ku sering mampir ke rumah ku dulu, jadi sampai lokasi
kira-kira jam 15:00 WIB dan ironisnya yang mengantar ke lokasi adalah
aku.
Dari
pertemuan rutin itulah yang menumbuhkan benih asmara diantara mereka. Saling
menyayangi dan mencintai menjadi landasan hubungan mereka. Paling tidak itu
yang terdengar dari mulut pacar ku. Aku tidak mau menilai cerita itu benar atau
salah.
Pada
akhir cerita, dia berkata akan menghentikan hubungan dengan seniman itu jika
aku memaafkannya. Tetapi aku menjawab, “Silahkan kamu berhubungan dengan
seniman itu karena itu hak mu, aku tidak boleh melarangnya. Aku juga tidak mau
memberikan batasan-batasan karena kamu bukan anak kecil lagi. Dan masalah
permaafan itu, aku sudah memberi mu maaf sebelum kamu memintanya.”
“Sedalam-dalamnya
bangkai dikubur, pasti tercium juga baunya.” Itulah pepatah kuno. Pacar ku yang
kebingungan karena terlalu jauh melangkah, akhirnya mengajak untuk mengadakan
pertemuan enam mata. Aku menyepakatinya.
Pertemuan
diadakan di sebuah kamar kost yang selama ini disewa seniman itu. Aku
mulai membuka percakapan karena memang tidak ada yang berani memulainya. Sejak
tadi hanya basa-basi saja. “Begini pak, kami berpacaran sudah hampir 9 tahun
dan akhir-akhir ini saya merasakan sesuatu yang aneh dalam hubungan kami.”
Seniman itu mencoba untuk menjadi tuan rumah yang baik. Sikap moderat
digunakannya. Aku tahu ini adalah gelagat yang tidak baik karena aku datang bukan
untuk melapor dan dia menampung laporan ku. Itu adalah gaya kuno yang sering
digunakan oleh birokrat untuk meredam gejolak tetapi tidak menyelesaikan
masalah. Strategi forum aku mainkan. Sedikit demi sedikit situasi berubah,
aku tidak mau ada moderator diantara kami bertiga. Aku ingin semua
bercerita dan semua mendengarkan.
Pancingan-pancingan
berbuah hasil. Mereka mulai bercerita meski masih terdengar retoris di
telinga. Aku mengejar terus hingga mereka mau mengakui perbuatannya. Walaupun
mereka minta maaf sampai menangis-nangis, hasil pertemuan itu sebenarnya lebih menguntungkan
mereka karena keduanya bersikukuh kalau perbuatan itu tidak salah dan akan
terus berlanjut. Aku diharap maklum atas hubungan mereka.
Ku coba
mengikuti alur tetapi itu tidak berarti diam. Aku mengijinkannya menemui
seniman itu dengan syarat dia harus selalu jujur. Pacar ku menyetujui dan
seniman itu menjadi saksinya. Waktu terus berlalu dan kesepakatan itu mulai dia
lupakan atau mungkin terlupakan.
3,2 bulan setelah malam natal 2006
Aku
masih belum bisa percaya dengan pacar ku, beberapa kali ku telepon dan orang
tuanya bilang dia pergi ke rumah teman akrabnya. Seperti biasa, aku langsung
menuju ke rumah itu dan ternyata dia selalu tidak ada di sana. HPnya ku hubungi
untuk menanyakan dia ada di mana. Dia menjawab kalau ada di rumah temannya itu.
Teman akrabnya ku suruh untuk tutup mulut.
Penipuan-penipuan
itu terus berlanjut. Suatu ketika aku mencoba mengajaknya bicara dari hati ke
hati. Dia menangis seperti biasa dan mengakui semua perbuatan itu.
Pacar
ku menemuinya lagi tanpa sepengetahuan ku. Dia tidak memberitahu karena takut
menyakiti perasaan ku, itulah alasannya. Kemudian dia menceritakan semuanya.
Seniman itu menjanjikan tempat tinggal di luar negeri, tepatnya di negeri yang terkenal
dengan pegunungan saljunya juga akan memberikan tanah yang luas untuk pertanian
dan peternakan di sebuah kota sebelah timur laut kota ku. Kota yang sebagian
besar penduduknya menjadi petani tembakau.
Janji
itu akan diwujudkan kalau pacar ku bersedia menjadi istrinya. Jawabannya
sungguh mengagetkan, pacar ku mau menjadi istri seniman itu.
Aku
ijinkan dia menikahi seniman itu tetapi dia menangis dan masih ingin bersama ku.
Aku menerimanya kembali tanpa syarat tetapi dia malah berjanji untuk
tidak menemui seniman itu lagi. Dia juga akan menghentikan komunikasi dengan sang
seniman. Aku pegang kata-katanya.
4 bulan setelah malam natal 2006
Sekali
lagi memang aku ini bodoh. Kawan-kawan
lama yang kebetulan kenal dengan pacar ku datang ke rumah. Mereka bercerita
sering melihatnya berjalan-jalan atau masuk ke sebuah rumah kost di tengah kota
bersama seniman itu. Pikiran ku langsung tertuju pada sebuah ruangan berukuran 3
M X 2 M yang disewa oleh seniman itu. Di ruangan itulah dulu diadakan pertemuan
enam mata yang sebenarnya menjijikkan. Aku tersenyum kecut. Aku terkelabuhi
lagi.
6 bulan setelah malam natal 2006
Aku
tetap berpura-pura tidak tahu dan seperti tidak terjadi apa-apa. Dengan
sindiran-sindiran manis, aku mengajaknya bercanda. Sering ku lontarkan
kata-kata, “Aku tidak percaya kamu!” atau “Siapa yang sebenarnya penipu?” Tentu
saja itu disesuaikan konteksnya dan dengan kemasan yang lucu. Sindiran-sindiran
itu mengena dan dia mengakui semua perbuatannya. Dia ingin terus mencintai
seniman itu tetapi juga ingin tetap mencintai ku. Statement pacar ku
sungguh mengagetkan, ternyata dia ingin memiliki dua suami. Aku menghargai
keputusannya tetapi yang jelas itu berbeda dengan prinsip yang ku pegang
tentang hubungan laki-laki dan perempuan. Kali ini aku memutuskan untuk
mengakhiri hubungan yang selama ini terbangun.
Dia
menangis, mengiba meminta maaf. Aku hanya menjawab, “Sebelum kamu minta maaf,
aku sudah memaafkannya. Kalau kamu butuh bantuan, aku akan bantu semampu ku, ku
harap kita akan tetap berkawan.” Saat ini tangisan itu sudah terasa hambar, air
matanya bukan air mata yang dulu, air mata yang sejuk dan mampu mendinginkan
amarah ku.
Waktu
terus berpacu dan banyak kejadian-kejadian setelah itu yang tidak aku ketahui.
Baru
beberapa minggu ini aku tahu kalau seniman itu telah menghilang dan
meninggalkan mimpi-mimpi. Janji-janji yang terucap hanyalah rayuan dan omong
kosong. Tinggal di luar negeri, tanah luas untuk pertanian dan peternakan,
galeri batik yang pernah diakunya ternyata milik seorang warga Negara asing. Dia
hanya disuruh menjagakan dan saat inipun galeri itu juga sudah tidak ada. Lebih
menyakitkan lagi, ternyata dia telah bertunangan dan tunangannya itu melabrak
mantan pacar ku. Menurut cerita dari mantan pacar ku, tunangan seniman itu
adalah pemilik sebuah restoran mewah yang terkenal di kota ku.
Bahasa-bahasa
yang sangat kasar memenuhi kotak surat hp mantan pacar ku. Pernah sekali tunangan
seniman itu menelepon ku. Pada waktu itu malam sabtu pahing yang
merupakan hari kelahiran ku dalam perhitungan kalender Jawa. Bahasa-bahasa yang
dia gunakan sungguh seperti seorang yang tidak berbudaya dan tidak
berpendidikan. Aku memakluminya, mungkin itu pengaruh dari amarah.
Beberapa
hari yang lalu di sekretariat ku lihat dia menerima telepon sambil menangis.
Sayup terdengar dia menyebut nama seniman dan tunangannya itu. Aku tidak tahu
dia sedang berbicara dengan siapa. Setengah jam setelah itu, aku mengajaknya
mencari makan malam. Warung makan angkringan hanya 106 langkah sebelah
timur sekretariat. Diantara 106 langkah itu ada 2 gundukan polisi tidur yang ku
benci. Kurang lebih pada langkah yang ke 81 dan pada gundukan ke 2 dari arah
sekretariat dia terjatuh pingsan. Wajahnya membiru dan nafas tersengal-sengal,
tubuhnya dingin seakan darah berhenti mengalir. Aku membopongnya ke
sekretariat. Tidak sempat lagi menghitung berapa langkah aku membopongnya. Yang
jelas telah membuat ku sidikit ngos-ngosan. Aku tahu kalau dia pingsan
pasti karena sedang memikirkan masalah yang berat.
Dengan
bantuan beberapa kawan, pakaiannya yang ketat dikendorkan supaya bisa bernafas
dengan lega. Saat ini banyak perempuan yang suka mengenakan mode pakaian yang stapress.
Tidak tahu apakah ini merupakan metode pengiritan bahan baku atau bukan, yang
jelas mode ini telah menjadi bagian dari budaya konsumtif kaum hawa
yang ingin tampil menarik. Meskipun ada juga yang terlihat lucu ketika
mengikuti trend ini.
Aku
mengambil beberapa helai daun jeruk nipis di samping sekretariat dan meremasnya
hingga menguarkan bau yang menusuk. Remasan itu ku letakkan di hidungnya. Aroma
daun jeruk nipis yang menyengat bisa menyadarkan orang dari pingsan. Setelah
itu ku panaskan air untuk menyeduh teh dicampur madu sebagai penghilang rasa
pening. Sebenarnya masih ada satu campuran lagi yaitu jeruk nipis. Tetapi sayang,
pohon jeruk nipis di samping sekretariat sedang tidak berbuah. Air hangat dimasukkan
ke dalam sebuah botol air mineral dan diletakkan di atas perutnya. Itu
berfungsi untuk melemaskan kembali otot perut yang menegang saat pingsan.
Setelah
5 menitan akhirnya dia sadar. Wajahnya terlihat seperti orang bingung dengan
tatapan mata kosong seperti sedang menerawang jauh entah kemana. Beberapa kawan
akrabnya menunggui dan beberapa lagi duduk-duduk di luar bersama ku. Ada yang
memberanikan diri bertanya kepada ku tentang kondisi mantan pacar ku. Aku hanya
menjawab kalau saat ini tidak mengetahui kondisinya secara pasti. Aku selalu menjawab
kalau dia baik-baik saja atau sehat-sehat saja kepada semua orang yang
menanyakan kondisinya. Aku tidak pernah menceritakan hubungan pribadi kepada
semua orang. Hanya satu atau dua kawan saja yang pernah aku ajak cerita. Itu
juga karena mereka sudah tahu tentang hubungan pribadi ku tanpa aku ceritai.
Tiga
hari kemudian adiknya menghubungi ku. Dia menceritakan kalau saat ini sikap
kakaknya banyak berubah. Sering mengurung diri di dalam kamar dan mudah marah.
Wajahnya kusut, pucat, tidak berseri lagi. Sering juga dia terlihat melamun
atau menangis di dalam kamar.
Karena
itulah, hari ini aku meminta ijin mu!
Ijinkanlah
aku membunuh untuk terakhir kalinya. Bukan karena aku dendam dan bukan pula
karena cemburu. Kamu tahu watak ku. Aku tidak mencoba untuk mencari-cari alasan
dan tidak pula mengada-ada. Orang ini memang layak untuk ku bunuh. Akan ku persembahkan
jantungnya untuk ibu ku dan otaknya untuk bapak ku sebagai tanda bakti kepada
mereka. Juga sebagai bukti pertanggungjawaban ku kepada penguasa alam. Aku muak
dengan lagak yang sok itu, apalagi yang ada padanya hanyalah omong kosong
belaka. Dilaknatlah dia oleh bumi dan langit.
Ijinkanlah
aku! Setelah ini aku akan segera menghilang, dari hidup dan mimpimu untuk selamanya.
Btijox
Juhn 18:06-07
Tidak ada komentar:
Posting Komentar