Jumat, 18 Mei 2012

Ijinkanlah


Ijinkanlah aku membunuh untuk terakhir kalinya. Bukan karena aku dendam dan bukan pula karena cemburu. Kamu tahu watak ku. Aku tidak mencoba untuk mencari-cari alasan dan tidak pula mengada-ada. Orang ini memang layak untuk ku bunuh. Akan ku persembahkan jantungnya untuk ibu ku dan otaknya untuk bapak ku sebagai tanda bakti kepada mereka. Juga sebagai bukti pertanggungjawaban ku kepada penguasa alam. Aku muak dengan lagak yang sok itu, apalagi yang ada padanya hanyalah omong kosong belaka. Dilaknatlah dia oleh bumi dan langit.
Ijinkanlah aku! Setelah ini aku akan segera menghilang. Dari hidup dan mimpimu untuk selamanya.
6 bulan yang lalu
Pertemuan yang tidak disengaja terjadi. Orang itu bertubuh kecil kerempeng, berambut gondrong dan nada bicara yang sangat meyakinkan. Kewibawaan itu bisa membuat seekor macan tunduk dihadapannya. Raut mukanya mencerminkan kegelisahan tetapi terlihat pula ketenangan dalam mengatasi masalah. Dari banyak cerita yang terdengar, dia seorang yang menyandang nama besar dan cukup disegani dalam komunitasnya. Banyak hal yang telah dia lakukan. Kehebatanya tidak hanya terdengar di kota ku saja tetapi juga tersohor sampai ke luar negeri.
Malam itu adalah malam natal tahun 2006. Kami mengadakan acara kecil-kecilan mengenang rasa sakit yang diderita Maria dan ketulusannya untuk melupakan kesakitan itu. Acara diadakan di sebuah rumah yang agak terpencil dan dingin. Rumah seorang kawan yang namanya dikenal dalam dunia panggung khususnya teater. Ketidaksengajaan yang menyertai acara itu, tampaknya juga telah membawa tapak-tapak kaki beberapa seniman tua dan kondang untuk hadir. Seorang pelukis yang bisa dibilang masterpiece hadir bersama rombongan kawan-kawan senimannya yang juga tidak kalah kondang. Salah seorang di dalam rombongan itulah yang akan aku ceritakan.
Gempa bumi yang menghancurkan selatan kota ku telah menarik perhatian banyak kalangan, salah satunya adalah para seniman. Mereka ingin mencurahkan ide-ide tentang kota ku dengan media yang mereka kuasai. Kanvas, sastra, teater, musik, kain, batu, semen, plastik dan media-media lainnya. Bencana alam itu juga telah membuat beberapa orang menjadikanya sebagai ajang reuni yang tanpa direncakan.
Waktu berjalan terasa begitu cepat, pembicaraan-pembicaraan yang mengalir deras telah membuat kesadaran hilang sesaat. Nilai-nilai dikupas dan dikaji ulang, estetika dan etika dalam lorong relativitas, gravitasi dan anomali berlomba diaduk ketel uap. Angin malam yang panas membuat beberapa anjing menjadi gelisah. Penciuman yang tajam telah membaui para peronda yang datang untuk mengambil jimpitan. Di kota ku yang tenang, jimpitan berupa segemgam beras atau uang beberapa ratus rupiah diletakkan di depan rumah dan petugas ronda akan mengambilnya setiap malam. Aku tidak tahu sejak kapan tradisi itu dimulai.
Beberapa anjing mulai menggeram dan menyalak. Peronda-peronda itu tetap tenang karena sudah terbiasa. Beberapa tamu yang baru hadir tampak kaget dan penasaran karena tiba-tiba saja anjing-anjing itu menyalak. Sejenak pembicaraan terhenti dan ini menjadi sebuah kesempatan untuk meneguk kopi atau teh yang tersisa di dalam gelas.
Orang itu sejak tadi hanya diam dan sekarang tampak mengeluarkan rokok dari dalam saku bajunya yang mungkin seumuran ku. Menurut ku umurnya kira-kira 45 tahunan. Uban mulai melawan rambut hitam yang panjang tidak diatur. Sejak pertama datang, dia langsung duduk di kursi sudut ruangan dan diam tanpa sepatah katapun. Bahkan tersenyumpun tidak. Sesekali diseruputnya thengkleng dalam baskom yang terlihat lezat. Wajah itu tampak berwibawa sekaligus angker. Aku menjadi minder dibuatnya.
2 hari setelah malam natal 2006
Aku bertemu dengan seorang kawan yang baru kenal beberapa bulan lalu namun sudah cukup akrab. Tampaknya dia cukup dekat dengan beberapa seniman yang hadir pada malam itu. Katanya karya-karya mereka itu bagus dan sangat dikenal. Dia menceritakan pengalamannya ketika hidup bersama mereka dengan penuh antusias. Aku mengamini saja ceritanya. Dari dia ku ketahui latar belakang para seniman-seniman itu. Sedikit banyak aku merasa bangga juga bisa berkenalan dengan mereka, entah mereka masih mengingat ku atau tidak. Itu tidaklah penting karena ketenaran  mereka bisa menjadi bahan cerita ku untuk kawan-kawan yang lain. Walaupun kalau nanti ada yang bertanya macam-macam tentang hal itu, tentu akan membuat ku repot. Tetapi biasanya aku membuat jawaban yang mengagung-agungkan nama mereka, entah itu benar atau tidak. Aku tidak mau mati gaya di hadapan kawan-kawan. Itulah salah satu sisi buruk yang secara sadar ku ulang-ulang dan belum tentu menguntungkan.
Mereka menyewa sebuah rumah di desa yang sebagian besar penduduknya adalah pengerajin gerabah. Letaknya di bagian selatan kota ku. Rumah itu memiliki sebuah pendapa yang cukup luas. Di dalam rumah inilah bibit permasalahan itu mulai tumbuh.
Secara arsitektural, bangunan itu terlihat nyeni dan klasik, hanya saja tampak gelap. Aku tidak paham masalah aura atau feng shui. Aku melihat gelap karena memang rumah itu lama tidak dihuni dan penerangannya kurang. Baik dari sinar matahari maupun lampu. Kondisinya cukup memprihatinkan, terlihat rusak di sana-sini. Dengan bantuan seorang yang paham pertukangan, rumah itu diperbaiki.
1 bulan setelah malam natal 2006
Atas seijin mereka, pendapa boleh digunakan untuk kegiatan berkumpul anak-anak dari usia TK sampai SMP yang tinggal di sekitar desa itu. Kebetulan aku dan kawan-kawan mempunyai program pendampingan trauma healing untuk anak-anak korban gempa. Dan khusus untuk desa itu pendampingnya adalah pacar ku. Dia sarjana S1 komunikasi sebuah universitas swasta yang bergengsi di kota ku. Kerja-kerja pendampingan itulah yang kemudian membuatnya diterima menjadi guru Taman Kanak-Kanak yang terletak di bagian timur kota ku.
Aktifitasnya yang padat membuat kami jadi jarang ketemu. Pagi sampai siang dia mengajar di TK, sorenya dia meluncur kebagian selatan kota ku untuk mendampingi anak-anak. Tentu hal ini sangat menjengkelkan, apalagi pada hari liburpun dia juga menyempatkan diri pergi ke selatan. Hampir tidak ada waktu sama sekali untuk bertemu. Aku penasaran dengan apa yang dikerjakannya. Jadwal yang ditetapkan seminggu dua kali dan dia hampir setiap hari datang. Kalau aku menanyakan aktifitasnya, selalu dijawab kalau anak-anak butuh waktu lebih. Bayangkan saja, aku bisa membagi waktu empat hari untuk dua desa dan dia satu minggu hanya untuk satu desa. Kecurigaan mulai muncul, aku mulai bertanya kepada kawan-kawan dekatnya. Mereka tidak mengetahui aktifitas pacar ku atau lebih tepatnya tidak ada yang mau memberitahukannya kepada ku. Karena beberapa waktu kemudian mereka baru mau bercerita dan itu sudah tidak membuat ku terkejut.
2 bulan setelah malam natal 2006
Pada suatu ketika HPnya rusak dan aku coba memperbaiki. HP itu ngadat kalau untuk membalas sms. Aku tekan beberapa tombol dan ternyata berhasil. Tetapi terjadi peristiwa yang aneh, secara otomatis kotak surat terbuka. Sejenak nafas ku terhenti, kepala ku pening. Kotak surat itu berisi kata-kata mesra dan rayuan untuk pacar ku. Aku memberanikan diri membuka balasan-balasannya. Aku sadar kalau perbuatan ku salah dan melanggar privasi. Dorongan emosi yang memuncak menuntun ku untuk berbuat nekad.
Sekali lagi aku tercekat dan jantung ku berdegup keras, pacar ku membalas rayuan itu dengan kata-kata mesra pula. Aku mencoba menguasai diri, HP ku kembalikan dengan wajah tenang dan seperti tidak terjadi apa-apa. Satu jam berlalu dan tetap tenang hingga ketenangan itu terusik oleh bunyi ring tones HP pacar ku. Dia mendapat telepon dari seseorang dan terlihat serius, mendadak rona wajahnya menjadi gelisah. Aku bertanya, “Ada apa?” “Anak-anak dampingan menunggu ku.” Jawabnya.  Aku merasakan ada suatu kejanggalan.
Aku  menawarkan diri untuk mengantarnya ke lokasi. Dia semakin gelisah dan berusaha menolak. Aku semakin merasakan kejanggalan itu. Aku mencoba membuat alasan serasional mungkin. Dengan wajah kebingungan, akhirnya dia mau juga. Aku tahu kalau perbuatan ini adalah pemanfaatan organisasi untuk kepentingan pribadi.
Di perjalan aku menanyakan siapa yang meneleponnya tadi dan dia menjawab, “Salah seorang seniman yang tinggal di rumah pendapa itu.” Aku mulai curiga. Jangan-jangan yang mengirim sms-sms mesra itu adalah dia? Aku tetap berusaha menguasai diri dan tenang, dengan nada bicara rendah ku coba membesarkan hatinya, “Kalau menjadi pendamping, kita memang harus siap setiap saat untuk dipanggil ke lokasi.” Dan sebenarnya itu adalah ungkapan yang tendensius. Dia semakin bingung dan gelisah. Sepanjang perjalanan dia tidak berani menatap ku, hanya bicara sepatah-sepatah saja itupun kalau aku ‘memancingnya’. Sangat berbeda dengan adat kebiasaannya yang cerewet dan enerjik.
Sesampainya di sana tepat seperti dugaan ku, pendapa itu pasti sepi. Aku melontarkan pertanyaan yang meledek tetapi dengan gaya serius dan penuh kesungguhan. “Kenapa kok sepi ya?” Dan dia menjawab, “Mungkin anak-anak sudah pulang.” Dalam hati aku tertawa dan mulai menikmati permainan ini. Selain sok tahu, mungkin aku juga suka iseng. Aku ajak dia untuk menemui seniman itu, ketakutan semakin melingkupinya. Dengan alasan berterimakasih karena telah ikut mengawasi anak-anak, aku membujuknya untuk menemui seniman itu. Akhirnya dia mau walaupun harus diikuti perasaan bingung dan gelisah.
Aku mengikutinya masuk dan ternyata seniman itu sedang tiduran di dalam ruang baca. Ruangan itu tempat meletakkan buku bacaan anak-anak dan mungkin bisa juga disebut sebagai perpustakaan mini. Dia menyambut hangat kedatangan pacar ku tetapi begitu sadar kalau aku di belakangnya, seniman itu kaget. Aku sempat memperhatikan meskipun sekilas.
Untuk mencairkan suasana, aku membuka diskusi keorganisasian yang sebenarnya mengada-ada saja. Ingin rasanya tertawa terbahak tetapi ku tahan. Aku tidak mau sandiwara ini terbongkar. Beruntunglah dulu aku pernah mempelajari dramaturgi dari sebuah buku yang ku peroleh di pasar loak. Wajah keduanya tampak bingung. Aku semakin bersemangat mengaduk emosi mereka. Ternyata orang yang terlihat angkuh dan berwibawa di malam natal itu bisa juga dibuat blingsatan. Rasa iba akhirnya menghampiri, dengan segenap kebanggaan aku mengajaknya pulang. Sepanjang perjalanan tak sepatah katapun terlontar. Diam, hening dalam alam pikiran masing-masing.
Meskipun telah mengetahui rahasia dibalik sms-sms itu, aku tetap berpura-pura tidak tahu. Aku ingin dia menceritakan dengan jujur dan sadar tanpa disuruh. Dan sandiwara itu tetap berjalan.
3 bulan setelah malam natal 2006
Aku tetap berpura-pura, hingga pada suatu malam dia mengajak bicara. Dia merasakan ketidaknyamanan dan mulailah bercerita. Semua berawal ketika seniman itu mengajaknya curhat. Dia memperkenalkan diri berasal dari sebuah kota di sebelah utara kota ku. Kota di mana para penjelajah dan pedagang berkulit kuning mendarat pertama kali di tanah air ku. Dia sudah lama tinggal di kota ku dan sering pula tinggal di sebuah kota sebelah barat kota ku. Kota dimana kemacetan dan ketidakadilan menjadi suguhan keseharian.
Dia lulusan sebuah institut seni yang terkenal di kota ku. Selain seniman batik yang memiliki beberapa galeri, dia pernah menjadi jurnalis untuk berita kriminal di sebuah stasiun televisi swasta ketika tinggal di kota sebelah timur kota ku. Kota yang terkenal keras dan penuh dengan orang-orang nekadnya sehingga menjadi cermin sejarah yang patriotik. Di kota ku, dia menjadi seorang tourist guide di pusat kota yang merupakan lokasi prostitusi sejak jaman dahulu.
Pertemuan rutin mereka lakukan setiap hari, kira-kira antara jam 14:00 – 20:00 WIB. Kalau hari sabtu pacar ku sering mampir ke rumah ku dulu, jadi sampai lokasi kira-kira jam 15:00 WIB dan ironisnya yang mengantar ke lokasi adalah aku.
Dari pertemuan rutin itulah yang menumbuhkan benih asmara diantara mereka. Saling menyayangi dan mencintai menjadi landasan hubungan mereka. Paling tidak itu yang terdengar dari mulut pacar ku. Aku tidak mau menilai cerita itu benar atau salah.
Pada akhir cerita, dia berkata akan menghentikan hubungan dengan seniman itu jika aku memaafkannya. Tetapi aku menjawab, “Silahkan kamu berhubungan dengan seniman itu karena itu hak mu, aku tidak boleh melarangnya. Aku juga tidak mau memberikan batasan-batasan karena kamu bukan anak kecil lagi. Dan masalah permaafan itu, aku sudah memberi mu maaf sebelum kamu memintanya.”
“Sedalam-dalamnya bangkai dikubur, pasti tercium juga baunya.” Itulah pepatah kuno. Pacar ku yang kebingungan karena terlalu jauh melangkah, akhirnya mengajak untuk mengadakan pertemuan enam mata. Aku menyepakatinya.
Pertemuan diadakan di sebuah kamar kost yang selama ini disewa seniman itu. Aku mulai membuka percakapan karena memang tidak ada yang berani memulainya. Sejak tadi hanya basa-basi saja. “Begini pak, kami berpacaran sudah hampir 9 tahun dan akhir-akhir ini saya merasakan sesuatu yang aneh dalam hubungan kami.” Seniman itu mencoba untuk menjadi tuan rumah yang baik. Sikap moderat digunakannya. Aku tahu ini adalah gelagat yang tidak baik karena aku datang bukan untuk melapor dan dia menampung laporan ku. Itu adalah gaya kuno yang sering digunakan oleh birokrat untuk meredam gejolak tetapi tidak menyelesaikan masalah. Strategi forum aku mainkan. Sedikit demi sedikit situasi berubah, aku tidak mau ada moderator diantara kami bertiga. Aku ingin semua bercerita dan semua mendengarkan.
Pancingan-pancingan berbuah hasil. Mereka mulai bercerita meski masih terdengar retoris di telinga. Aku mengejar terus hingga mereka mau mengakui perbuatannya. Walaupun mereka minta maaf sampai menangis-nangis, hasil pertemuan itu sebenarnya lebih menguntungkan mereka karena keduanya bersikukuh kalau perbuatan itu tidak salah dan akan terus berlanjut. Aku diharap maklum atas hubungan mereka.
Ku coba mengikuti alur tetapi itu tidak berarti diam. Aku mengijinkannya menemui seniman itu dengan syarat dia harus selalu jujur. Pacar ku menyetujui dan seniman itu menjadi saksinya. Waktu terus berlalu dan kesepakatan itu mulai dia lupakan atau mungkin terlupakan.
3,2 bulan setelah malam natal 2006
Aku masih belum bisa percaya dengan pacar ku, beberapa kali ku telepon dan orang tuanya bilang dia pergi ke rumah teman akrabnya. Seperti biasa, aku langsung menuju ke rumah itu dan ternyata dia selalu tidak ada di sana. HPnya ku hubungi untuk menanyakan dia ada di mana. Dia menjawab kalau ada di rumah temannya itu. Teman akrabnya ku suruh untuk tutup mulut.
Penipuan-penipuan itu terus berlanjut. Suatu ketika aku mencoba mengajaknya bicara dari hati ke hati. Dia menangis seperti biasa dan mengakui semua perbuatan itu.
Pacar ku menemuinya lagi tanpa sepengetahuan ku. Dia tidak memberitahu karena takut menyakiti perasaan ku, itulah alasannya. Kemudian dia menceritakan semuanya. Seniman itu menjanjikan tempat tinggal di luar negeri, tepatnya di negeri yang terkenal dengan pegunungan saljunya juga akan memberikan tanah yang luas untuk pertanian dan peternakan di sebuah kota sebelah timur laut kota ku. Kota yang sebagian besar penduduknya menjadi petani tembakau.
Janji itu akan diwujudkan kalau pacar ku bersedia menjadi istrinya. Jawabannya sungguh mengagetkan, pacar ku mau menjadi istri seniman itu.
Aku ijinkan dia menikahi seniman itu tetapi dia menangis dan masih ingin bersama ku. Aku menerimanya kembali tanpa syarat tetapi dia malah berjanji untuk tidak menemui seniman itu lagi. Dia juga akan menghentikan komunikasi dengan sang seniman. Aku pegang kata-katanya.
4 bulan setelah malam natal 2006
Sekali lagi memang aku ini bodoh.  Kawan-kawan lama yang kebetulan kenal dengan pacar ku datang ke rumah. Mereka bercerita sering melihatnya berjalan-jalan atau masuk ke sebuah rumah kost di tengah kota bersama seniman itu. Pikiran ku langsung tertuju pada sebuah ruangan berukuran 3 M X 2 M yang disewa oleh seniman itu. Di ruangan itulah dulu diadakan pertemuan enam mata yang sebenarnya menjijikkan. Aku tersenyum kecut. Aku terkelabuhi lagi.
6 bulan setelah malam natal 2006
Aku tetap berpura-pura tidak tahu dan seperti tidak terjadi apa-apa. Dengan sindiran-sindiran manis, aku mengajaknya bercanda. Sering ku lontarkan kata-kata, “Aku tidak percaya kamu!” atau “Siapa yang sebenarnya penipu?” Tentu saja itu disesuaikan konteksnya dan dengan kemasan yang lucu. Sindiran-sindiran itu mengena dan dia mengakui semua perbuatannya. Dia ingin terus mencintai seniman itu tetapi juga ingin tetap mencintai ku. Statement pacar ku sungguh mengagetkan, ternyata dia ingin memiliki dua suami. Aku menghargai keputusannya tetapi yang jelas itu berbeda dengan prinsip yang ku pegang tentang hubungan laki-laki dan perempuan. Kali ini aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan yang selama ini terbangun.
Dia menangis, mengiba meminta maaf. Aku hanya menjawab, “Sebelum kamu minta maaf, aku sudah memaafkannya. Kalau kamu butuh bantuan, aku akan bantu semampu ku, ku harap kita akan tetap berkawan.” Saat ini tangisan itu sudah terasa hambar, air matanya bukan air mata yang dulu, air mata yang sejuk dan mampu mendinginkan amarah ku.
Waktu terus berpacu dan banyak kejadian-kejadian setelah itu yang tidak aku ketahui.
Baru beberapa minggu ini aku tahu kalau seniman itu telah menghilang dan meninggalkan mimpi-mimpi. Janji-janji yang terucap hanyalah rayuan dan omong kosong. Tinggal di luar negeri, tanah luas untuk pertanian dan peternakan, galeri batik yang pernah diakunya ternyata milik seorang warga Negara asing. Dia hanya disuruh menjagakan dan saat inipun galeri itu juga sudah tidak ada. Lebih menyakitkan lagi, ternyata dia telah bertunangan dan tunangannya itu melabrak mantan pacar ku. Menurut cerita dari mantan pacar ku, tunangan seniman itu adalah pemilik sebuah restoran mewah yang terkenal di kota ku.
Bahasa-bahasa yang sangat kasar memenuhi kotak surat hp mantan pacar ku. Pernah sekali tunangan seniman itu menelepon ku. Pada waktu itu malam sabtu pahing yang merupakan hari kelahiran ku dalam perhitungan kalender Jawa. Bahasa-bahasa yang dia gunakan sungguh seperti seorang yang tidak berbudaya dan tidak berpendidikan. Aku memakluminya, mungkin itu pengaruh dari amarah.
Beberapa hari yang lalu di sekretariat ku lihat dia menerima telepon sambil menangis. Sayup terdengar dia menyebut nama seniman dan tunangannya itu. Aku tidak tahu dia sedang berbicara dengan siapa. Setengah jam setelah itu, aku mengajaknya mencari makan malam. Warung makan angkringan hanya 106 langkah sebelah timur sekretariat. Diantara 106 langkah itu ada 2 gundukan polisi tidur yang ku benci. Kurang lebih pada langkah yang ke 81 dan pada gundukan ke 2 dari arah sekretariat dia terjatuh pingsan. Wajahnya membiru dan nafas tersengal-sengal, tubuhnya dingin seakan darah berhenti mengalir. Aku membopongnya ke sekretariat. Tidak sempat lagi menghitung berapa langkah aku membopongnya. Yang jelas telah membuat ku sidikit ngos-ngosan. Aku tahu kalau dia pingsan pasti karena sedang memikirkan masalah yang berat.
Dengan bantuan beberapa kawan, pakaiannya yang ketat dikendorkan supaya bisa bernafas dengan lega. Saat ini banyak perempuan yang suka mengenakan mode pakaian yang stapress. Tidak tahu apakah ini merupakan metode pengiritan bahan baku atau bukan, yang jelas mode ini telah menjadi bagian dari budaya konsumtif kaum hawa yang ingin tampil menarik. Meskipun ada juga yang terlihat lucu ketika mengikuti trend ini.
Aku mengambil beberapa helai daun jeruk nipis di samping sekretariat dan meremasnya hingga menguarkan bau yang menusuk. Remasan itu ku letakkan di hidungnya. Aroma daun jeruk nipis yang menyengat bisa menyadarkan orang dari pingsan. Setelah itu ku panaskan air untuk menyeduh teh dicampur madu sebagai penghilang rasa pening. Sebenarnya masih ada satu campuran lagi yaitu jeruk nipis. Tetapi sayang, pohon jeruk nipis di samping sekretariat sedang tidak berbuah. Air hangat dimasukkan ke dalam sebuah botol air mineral dan diletakkan di atas perutnya. Itu berfungsi untuk melemaskan kembali otot perut yang menegang saat pingsan.
Setelah 5 menitan akhirnya dia sadar. Wajahnya terlihat seperti orang bingung dengan tatapan mata kosong seperti sedang menerawang jauh entah kemana. Beberapa kawan akrabnya menunggui dan beberapa lagi duduk-duduk di luar bersama ku. Ada yang memberanikan diri bertanya kepada ku tentang kondisi mantan pacar ku. Aku hanya menjawab kalau saat ini tidak mengetahui kondisinya secara pasti. Aku selalu menjawab kalau dia baik-baik saja atau sehat-sehat saja kepada semua orang yang menanyakan kondisinya. Aku tidak pernah menceritakan hubungan pribadi kepada semua orang. Hanya satu atau dua kawan saja yang pernah aku ajak cerita. Itu juga karena mereka sudah tahu tentang hubungan pribadi ku tanpa aku ceritai.
Tiga hari kemudian adiknya menghubungi ku. Dia menceritakan kalau saat ini sikap kakaknya banyak berubah. Sering mengurung diri di dalam kamar dan mudah marah. Wajahnya kusut, pucat, tidak berseri lagi. Sering juga dia terlihat melamun atau menangis di dalam kamar.
Karena itulah, hari ini aku meminta ijin mu!
Ijinkanlah aku membunuh untuk terakhir kalinya. Bukan karena aku dendam dan bukan pula karena cemburu. Kamu tahu watak ku. Aku tidak mencoba untuk mencari-cari alasan dan tidak pula mengada-ada. Orang ini memang layak untuk ku bunuh. Akan ku persembahkan jantungnya untuk ibu ku dan otaknya untuk bapak ku sebagai tanda bakti kepada mereka. Juga sebagai bukti pertanggungjawaban ku kepada penguasa alam. Aku muak dengan lagak yang sok itu, apalagi yang ada padanya hanyalah omong kosong belaka. Dilaknatlah dia oleh bumi dan langit.
Ijinkanlah aku! Setelah ini aku akan segera menghilang, dari hidup dan mimpimu untuk selamanya.

Btijox Juhn 18:06-07

Tidak ada komentar:

Posting Komentar