“Tataplah dunia, masih banyak tempat yang
belum kau kunjungi. Masih belumlah penuh kau gunakan mata batin mu untuk menyibak
misteri dunia ini. Banyak harta karun yang masih tersimpan dan belum diketahui
orang.” Kata-kata seorang teman yang terus terngiang-ngiang di telinga.
“Janganlah patah arang hanya gara-gara
peristiwa sepele itu, toh aku tahu kalau kau masih punya banyak pilihan yang
beberapa waktu lalu tidak kau hiraukan. Aku yakin kalau kau sanggup untuk
meraih pilihan-pilihan itu kembali, aku yakin akan kemampuanmu.” Lanjutnya.
Beberapa hari ini HP ku sangat aktif dari
hari-hari biasanya. Dari pagi hingga pagi lagi, banyak sekali SMS dan panggilan
yang kadangkala tak terjawab. Tak tahu kenapa aku mengikuti saran temanku itu.
Beberapa nomer HP yang beberapa waktu lalu kuhindari untuk kuhubungi hari-hari
ini kukontak lagi dan sungguh luar biasa. Beberapa yang kukontak langsung
mengajak untuk ketemu dan pembicaraan yang diluar dugaan banyak terjadi.
Saat ini aku sedang dalam situasi
kebingungan, aku butuh waktu untuk merenung untuk mendapatkan konsentrasi dan
kefokusan diantara beberapa pilihan yang sulit. Semua ada kelebihan dan
kekurangannya. Tapi bagaimanapun juga aku harus memilih. Hidup haruslah terus
berlanjut dan jangan sampai dibiarkan kosong.
Seperti masa-masa lalu, keputusasaan hanya
mampir sehari dan beberapa hari lalu kembali terbukti semangat itu muncul
kembali. Tak akan kubiarkan keputusasaan menggorogoti. Semangat jalanan,
semangat pengembara, semangat pembebasan yang selalu menemani dalam perjuangan.
Kekuatan yang tersusun dan pendisiplinan diri akan menghasilkan energy yang
luar biasa untuk meraih apapun yang bisa diraih. Sejenak aku mengingat
perjalanan-perjalanan yang pernah kulakukan untuk meyakinkan bahwa aku kuat dan
mampu untuk melakukan hal-hal yang nampak tidak mungkin. Tapi aku juga masih
ingat dalam perjalanan-perjalananku kemarin aku juga beberapa kali menemukan
kebimbangan dan itu kuanggap hal yang alamiah karena tidak semua jalan yang
ditempuh itu lurus dan mulus. Kadangkala juga bertemu dengan jalan
berlobang-lobang, jalan berkelok-kelok dan juga persimpangan. Berjalan sendiri
sudah biasa jadi kalau ada yang mau ikut silahkan dan kalau tak ada juga tak
apa. Aku sudah berikan tawaran dan inilah jalanku. Seandainya ada yang mau ikut
dan memberikan tawaran jalan lain akan kupertimbangkan lebih dahulu. Aku
sepakat dengan kesetaraan, jadi seandainya jalan kita berbeda dan aku
memaksakan jalanku kepadamu maka akan ada keterpaksaan dan berarti itu telah
menghilangkan kesetaraan. Jadi kalau kita tidak menemukan kesepemahaman mari
kita tempuh jalan kita masing-masing. Aku tidak mau ada dibawah tekananmu dan
kamu tentu juga tidak mau berada di bawah tekananku. Tidak ada keterpaksaan,
itu yang harus ditekankan. Sama rata, sama rasa. Semoga tidak menjadikan
kemenyesalanmu.
Perjalanan masih panjang, sayang untuk
dilewatkan dan disia-siakan. Begitulah kata bijak para petualang dalam mencari
kesejatian. Tiada keluh yang berkepanjangan, tiada duka yang abadi. Ketika
berjalan telah berserah dan melepaskan semua beban, tiada duka yang sangat
berduka dan tiada senang yang sangat senang. Semua menjadi biasa-biasa saja maka
disitulah awal seorang petualang mulai bisa menguasai ruang dan waktunya.
Disitu pulalah seorang petualang mulai menemukan kesiapan untuk menghadapi
situasi dan kondisi apapun. Perjalanan menjadi ringan, langkah kaki juga menjadi
ringan menembus belukar kehidupan.
Kesadaran adalah matahari, kesabaran adalah
bumi, keberanian menjadi cakrawala dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata
(Paman Doblang, Kantata Takwa). Begitulah sang petualang bersikap. Kabarkan
tentang kejujuran dan kebenaran, membakar semangat orang-orang yang mulai lelah
dan putus asa. Tidak menghendaki yang bukan menjadi hak miliknya karena itu
adalah perbuatan mencuri. Tidak menebarkan permusuhan dan saling mengingatkan
jika ada yang tersesat dalam perjalanan. Dari sinilah kemudian akan ditemukan
kekuatan yang tersusun dan pendisiplinan diri sebagai sumber energy yang kuat.
(btijox, march 10:10 – “Ketika mereka sudah
sampai di rumah, murid-murid itu bertanya pula kepada Yesus tentang hal itu”)
(Terimakasih untuk: Maria Bernadheta Rosario …….., emas
kawin yang paling mahal adalah cinta dan penghidupan seperti yang telah orang
tua berikan dalam membesarkan kita. Negosiasi yang berat, selamat telah berhasil
membongkar tradisi NTT yang sangat berat dan kita pernah mengalaminya. Salam
hangat untuk keluargamu yang telah berbesar hati menerima dan memahami itu
semua. Mari kita saling belajar dan saling mengingatkan, perjalanan masih
panjang!)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar