Jumat, 18 Mei 2012

LANGGAM BUNGA MATAHARI


“Tataplah dunia, masih banyak tempat yang belum kau kunjungi. Masih belumlah penuh kau gunakan mata batin mu untuk menyibak misteri dunia ini. Banyak harta karun yang masih tersimpan dan belum diketahui orang.” Kata-kata seorang teman yang terus terngiang-ngiang di telinga.
“Janganlah patah arang hanya gara-gara peristiwa sepele itu, toh aku tahu kalau kau masih punya banyak pilihan yang beberapa waktu lalu tidak kau hiraukan. Aku yakin kalau kau sanggup untuk meraih pilihan-pilihan itu kembali, aku yakin akan kemampuanmu.” Lanjutnya.
Beberapa hari ini HP ku sangat aktif dari hari-hari biasanya. Dari pagi hingga pagi lagi, banyak sekali SMS dan panggilan yang kadangkala tak terjawab. Tak tahu kenapa aku mengikuti saran temanku itu. Beberapa nomer HP yang beberapa waktu lalu kuhindari untuk kuhubungi hari-hari ini kukontak lagi dan sungguh luar biasa. Beberapa yang kukontak langsung mengajak untuk ketemu dan pembicaraan yang diluar dugaan banyak terjadi.
Saat ini aku sedang dalam situasi kebingungan, aku butuh waktu untuk merenung untuk mendapatkan konsentrasi dan kefokusan diantara beberapa pilihan yang sulit. Semua ada kelebihan dan kekurangannya. Tapi bagaimanapun juga aku harus memilih. Hidup haruslah terus berlanjut dan jangan sampai dibiarkan kosong.
Seperti masa-masa lalu, keputusasaan hanya mampir sehari dan beberapa hari lalu kembali terbukti semangat itu muncul kembali. Tak akan kubiarkan keputusasaan menggorogoti. Semangat jalanan, semangat pengembara, semangat pembebasan yang selalu menemani dalam perjuangan. Kekuatan yang tersusun dan pendisiplinan diri akan menghasilkan energy yang luar biasa untuk meraih apapun yang bisa diraih. Sejenak aku mengingat perjalanan-perjalanan yang pernah kulakukan untuk meyakinkan bahwa aku kuat dan mampu untuk melakukan hal-hal yang nampak tidak mungkin. Tapi aku juga masih ingat dalam perjalanan-perjalananku kemarin aku juga beberapa kali menemukan kebimbangan dan itu kuanggap hal yang alamiah karena tidak semua jalan yang ditempuh itu lurus dan mulus. Kadangkala juga bertemu dengan jalan berlobang-lobang, jalan berkelok-kelok dan juga persimpangan. Berjalan sendiri sudah biasa jadi kalau ada yang mau ikut silahkan dan kalau tak ada juga tak apa. Aku sudah berikan tawaran dan inilah jalanku. Seandainya ada yang mau ikut dan memberikan tawaran jalan lain akan kupertimbangkan lebih dahulu. Aku sepakat dengan kesetaraan, jadi seandainya jalan kita berbeda dan aku memaksakan jalanku kepadamu maka akan ada keterpaksaan dan berarti itu telah menghilangkan kesetaraan. Jadi kalau kita tidak menemukan kesepemahaman mari kita tempuh jalan kita masing-masing. Aku tidak mau ada dibawah tekananmu dan kamu tentu juga tidak mau berada di bawah tekananku. Tidak ada keterpaksaan, itu yang harus ditekankan. Sama rata, sama rasa. Semoga tidak menjadikan kemenyesalanmu.
Perjalanan masih panjang, sayang untuk dilewatkan dan disia-siakan. Begitulah kata bijak para petualang dalam mencari kesejatian. Tiada keluh yang berkepanjangan, tiada duka yang abadi. Ketika berjalan telah berserah dan melepaskan semua beban, tiada duka yang sangat berduka dan tiada senang yang sangat senang. Semua menjadi biasa-biasa saja maka disitulah awal seorang petualang mulai bisa menguasai ruang dan waktunya. Disitu pulalah seorang petualang mulai menemukan kesiapan untuk menghadapi situasi dan kondisi apapun. Perjalanan menjadi ringan, langkah kaki juga menjadi ringan menembus belukar kehidupan.
Kesadaran adalah matahari, kesabaran adalah bumi, keberanian menjadi cakrawala dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata (Paman Doblang, Kantata Takwa). Begitulah sang petualang bersikap. Kabarkan tentang kejujuran dan kebenaran, membakar semangat orang-orang yang mulai lelah dan putus asa. Tidak menghendaki yang bukan menjadi hak miliknya karena itu adalah perbuatan mencuri. Tidak menebarkan permusuhan dan saling mengingatkan jika ada yang tersesat dalam perjalanan. Dari sinilah kemudian akan ditemukan kekuatan yang tersusun dan pendisiplinan diri sebagai sumber energy yang kuat.

(btijox, march 10:10 – “Ketika mereka sudah sampai di rumah, murid-murid itu bertanya pula kepada Yesus tentang hal itu”)

(Terimakasih untuk: Maria Bernadheta Rosario …….., emas kawin yang paling mahal adalah cinta dan penghidupan seperti yang telah orang tua berikan dalam membesarkan kita. Negosiasi yang berat, selamat telah berhasil membongkar tradisi NTT yang sangat berat dan kita pernah mengalaminya. Salam hangat untuk keluargamu yang telah berbesar hati menerima dan memahami itu semua. Mari kita saling belajar dan saling mengingatkan, perjalanan masih panjang!)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar